Dalam Proses Pemulihan Safiey Illias Mendapat Pujian Dari Orang Ramai Dengan Perubahan Terbarunya

Manusia di manapun, baik mereka yang lebih dulu hadir ke dunia maupun yang akan datang kemudian, tidak pernah terlepas dari penyakit lalai (alpa). Bagai peristiwa sambung-menyambung, sifat alpa per-tama telah dilakukan oleh Nabiyullah Adam as dan Siti Hawa dengan memakan buah Khuldi.Akibat kealpaan itu, manusia dapat terperangkap melakukan kesalahan, pelanggaran, sampai kepada kejahatan. Selagi nafas kita masih ada, pintu ampunan Tuhan dibuka seluas langit dan bumi.

Safiey Illias kini mula menjadi perhatian ramai apatah lagi dia sudah kembali kepada fitrah sebagai lelaki. Bagaimanapun, dia juga menerima pelbagai komen ‘tumpang gembira’ netizen yang bersyukur dengan perubahannya itu.Terbaru pula, dilaman Instagram milik usahawan terkenal ini dia memuat naik satu keping foto bersama mak sehingga ia meraih lebih 70 ribu tanda suka.

Safiey juga menerima lebih 2 ribu komen daripada netizen yang turut bangga dengan perubahan dilakukan.

Dalam pada itu, dia yang kini memiliki 1 juta followers dilaman Instagram turut menerima doa-doa daripada netizen yang berharap agar dia kekal istiqamah.

Alhumdulillah..

Satu hal yang juga fitrah dalam diri manusia adalah adanya kecenderungan mereka pada perasaan kebenaran. Istilah itu bisa pula berarti `perasaan hukum’. Manusia dalam keadaan bagaimanapun selalu diliputi oleh hukum dan berhajat kepada hukum. Mereka ingin menegakkannya, walaupun terkadang tuntutan hawa nafsu bersikeras menolaknya. Kalangan ahli hukum menyebut hal ini sebagai `hukum ada di mana-mana’.

Oleh karena perasaan ingin tegaknya hukum itulah, manusia berupaya untuk mewujudkan keamanan, ketenteraman, dan ketertiban untuk diri, keluarga, dan lingkungannya. Dengan demikian akan terwujud aturan main kehidupan yang dapat berbeda dengan binatang, di mana yang kuat dapat dengan sesuka hatinya menguasai dan memakan si lemah.

Kita terkadang mendapati hidup yang penuh ketenteraman, bahagia —meskipun kata orang kita hanya `cukup hidup dengan nasi dan garam’—tetapi hal itu tidak mengurangi rasa senang, tenteram, dan bahagia yang ada di hati kita. Hidup pun penuh optimisme. Hal ini merupakan buah rasa syukur kita terhadap karunia Allah yang yang telah kita peroleh. Kemudian kita telah berupaya dengan sekuat tenaga menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Kita berjalan di atas jalan keridhaan-Nya.

Memohon ampun dan bertaubat hendaknya tidak dilakukan dengan main-main atau setengah-setengah. Setengahnya insyaf, setengahnya lagi ingin kembali ke pekerjaan lamanya. Ini sama halnya dengan membiarkan benih penyakit jahat tumbuh kembali dalam diri. Bagi orang yang bertaubat mesti menanamkan niat yang kuat dalam dirinya untuk meninggalkan pekerjaan keliru sejauh-jauhnya. Tutup rapat-rapat lembaran hitam itu dan jangan coba membukanya kembali.

Sumber: Safiey Illias via HCL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *